Aku menulis ini sambil membiarkan ingatan berjalan pelan, menelusuri kembali jejak-jejak waktu yang pernah kita lalui. Dari awal pertemuan yang sederhana, percakapan yang tumbuh perlahan, hingga interaksi yang tanpa sadar menumbuhkan rasa. Semua terasa nyata, hangat, dan penuh harap pada masanya. Dua hati yang saling mengenal, saling merasakan getar yang sama, namun terhenti pada satu kenyataan: rasa itu belum memiliki tempat untuk berlabuh secara sah, belum memiliki ikatan yang mampu menenangkan kegelisahan masing-masing.
Ada dua hati yang sama-sama berjuang, tetapi dengan cara yang berbeda. Satu hati berusaha keras memantaskan diri—menyusun ulang hidup, memperbaiki kekurangan, dan menyiapkan masa depan agar layak untuk dipertemukan denganmu. Hati yang lain memilih jalan yang lebih sunyi: bersabar, menunggu, dan menahan rindu sambil percaya bahwa waktu akan berpihak pada ketulusan. Namun di balik perjuangan dan kesabaran itu, tersimpan kekhawatiran yang tak pernah benar-benar terucap.
Satu hati dihantui rasa takut akan ditinggalkan, trauma dari masa lalu yang belum sepenuhnya sembuh. Ketakutan itu bukan tanpa alasan, melainkan lahir dari luka-luka lama yang pernah mengajarkan betapa sakitnya kehilangan. Sementara satu hati lainnya takut menjadi penyebab kehilangan itu sendiri—takut karena merasa membuat seseorang menunggu terlalu lama, takut karena merasa belum mampu memberi kepastian yang pantas. Meski demikian, di antara ketakutan itu, masih ada harapan yang diam-diam disemai: harapan untuk suatu hari bersatu, setelah perjuangan dan kesabaran menemukan titik temu.
Namun kisah ini bukan tentang akhir yang indah. Bukan tentang dua hati yang akhirnya berpegangan tangan di garis finis. Kisah ini berakhir dengan perpisahan—sunyi, pelan, dan meninggalkan banyak kata yang tak sempat diucapkan.
Maafkan aku, jika sifat-sifat dalam diriku justru membuatmu lelah. Jika sikapku menumbuhkan rasa muak, keraguan, atau membuatmu merasa tidak aman. Maaf bila aku gagal menjadi tempatmu bersandar, gagal menjadi penenang bagi kegelisahan yang sering mengunjungimu. Aku sadar, aku belum menjadi sosok seperti yang kau harapkan, dan kesadaran itu kini menjadi penyesalan yang terus bergema.
Jika semua yang terjadi hingga titik ini adalah akibat dari kelalaianku, dari kesalahan-kesalahan yang tak sempat kuperbaiki, maka aku memohon kepada Sang Pemilik Hati—Dia yang Maha Membolak-balikkan perasaan manusia—agar membantuku belajar ikhlas. Ikhlas menerima kepergianmu, ikhlas menerima kenyataan bahwa mungkin aku bukan orang yang ditakdirkan berjalan bersamamu. Semoga kau menemukan kebahagiaan, bersama seseorang yang datang di waktu yang lebih tepat, yang mampu memberikan apa yang tak sanggup kuberikan.
Kehilanganmu menjadi cermin besar dalam hidupku. Dari sana aku belajar berbenah, mengevaluasi setiap kesalahan, setiap kekurangan, agar tidak mengulanginya lagi—bukan untukmu, melainkan untuk diriku sendiri. Namun tetap saja, kehilanganmu meninggalkan kehampaan. Hari-hariku terasa sunyi, sepi, seperti berjalan tanpa tujuan. Aku berusaha melupakan, tetapi setiap hari dada ini terasa panas, sesak oleh perasaan yang tak nyaman dan tak kunjung reda.
Aku berada di tempatku sekarang karena suatu alasan yang dahulu berkaitan erat denganmu. Banyak hal yang kulakukan dengan satu tujuan: agar suatu hari aku pantas berdiri di sisimu. Namun alasan itu kini telah pergi, menghilang tanpa pamit, meninggalkan pertanyaan dalam diriku: untuk apa semua ini sekarang? Mengapa aku masih terus melangkah, ketika tujuan utamanya telah tiada?
Sejujurnya, selama ini aku berusaha menutupi segala kekhawatiranmu. Aku tak ingin kau merasa sebagai beban. Aku menyembunyikan tekanan yang kurasakan—dari rutinitas yang melelahkan, dari keadaan dunia yang kian berat, dan dari tuntutan waktu yang seolah terus mengejarku. Hingga saat kau berkata, jika aku tak bisa segera, lebih baik mundur; jika bukan tahun ini, jangan pernah hadir dalam hidupmu. Kalimat itu menghantam batinku, menambah beban yang selama ini kupendam sendiri.
Aku terus menutup-nutupi rasa tertekan itu, hingga tanpa sadar aku melewati batas. Aku terlihat ragu, terlihat tidak serius, padahal aku hanya terlalu lelah untuk menjelaskan. Padahal sejatinya, aku tak pernah mempermasalahkan beban. Justru beban-beban itulah yang selama ini membentukku, memaksaku tumbuh, dan mengajarkanku tentang arti tanggung jawab.
Aku tidak pernah menyalahkan takdir atas kehilangan dan kepergianmu. Aku tidak marah pada keadaan, tidak pula pada waktu. Aku hanya menyalahkan diriku sendiri—atas ketidakmampuanku untuk segera memilikimu, atas ketidakmampuanku menjadi sosok yang sesuai dengan harapanmu, hingga akhirnya keraguan tumbuh di hatimu pada saat-saat terakhir.
Maafkan aku jika di detik-detik perpisahan, aku memilih diam. Bukan karena tak ada kata, melainkan karena terlalu banyak emosi yang kutahan. Aku tak ingin sisi rapuh dan emosional itu terlihat, tak ingin kau menyaksikan pertarungan batin yang sedang terjadi di dalam diriku.
Dan jika suatu hari semesta memberi kesempatan kedua—meski kecil dan mungkin tak realistis—terus terang, hatiku masih berharap. Berharap bisa berjalan bersamamu sekali lagi, dengan versi diriku yang lebih siap, lebih dewasa, dan lebih pantas. Namun jika kesempatan itu tak pernah datang, biarlah tulisan ini menjadi saksi bahwa aku pernah mencintaimu dengan segenap kemampuan yang kumiliki, meski pada akhirnya itu belum cukup.