Aku menulis namamu
di sela napas yang tertahan,
di antara jeda pagi dan malam
yang tak lagi saling menunggu.
Kita pernah menjadi dua arah angin
yang saling mengenal aromanya,
namun tak pernah benar-benar
berani menetap pada satu musim.
Ada satu jiwa yang sibuk menata reruntuhan,
mengumpulkan serpih diri
agar kelak pantas disebut utuh.
Ada satu jiwa lain
yang memilih duduk di tepi waktu,
menahan langkah,
menghitung detik dengan sabar
sambil menyembunyikan lelah.
Kita sama-sama membawa bayang,
aku dengan luka lama
yang gemetar setiap kali pintu tertutup,
kau dengan resah
karena takut menunggu terlalu panjang
hingga harap berubah letih.
Kita saling menggenggam tanpa genggaman,
saling memiliki tanpa kepemilikan.
Rasa tumbuh diam-diam,
namun dunia meminta kepastian
yang belum sanggup kuberikan.
Aku ingin berkata:
aku sedang berlari,
mengejar versi diriku
yang layak berdiri di hadapanmu.
Namun suaraku sering tertelan
oleh beban hari,
oleh tuntutan waktu,
oleh gemuruh hidup
yang tak sempat kuterjemahkan.
Kau melihat diamku
sebagai keraguan.
Kau membaca lelahku
sebagai ketidaksungguhan.
Padahal aku hanya terlalu lama
memendam badai
hingga lupa caranya menjelaskan hujan.
Hingga suatu hari,
langkahmu memilih berbelok.
Bukan dengan amarah,
melainkan dengan sunyi
yang lebih menyakitkan
dari teriakan mana pun.
Aku tak menyalahkan jalan
yang membawa kita menjauh.
Aku hanya menunduk pada cermin,
mengakui kekurangan,
menghitung kesalahan,
dan belajar dari kehilangan
yang kini tinggal gema.
Sejak kepergianmu,
hari-hari berjalan datar.
Tak gelap,
namun juga tak bercahaya.
Dadaku sering terasa hangat terbakar,
seolah ada kata-kata
yang menolak padam
meski tak pernah terucap.
Aku ingin melupakan,
namun ingatan adalah rumah
yang pintunya selalu terbuka.
Setiap langkah perbaikan
masih menyebut namamu
sebagai alasan pertama.
Jika suatu saat semesta
berbaik hati mempertemukan ulang,
aku ingin datang
bukan sebagai seseorang yang meminta,
melainkan sebagai seseorang
yang akhirnya siap.
Namun bila itu tak pernah terjadi,
biarlah puisiku menjadi saksi:
bahwa aku pernah menunggu,
pernah berjuang dalam diam,
dan pernah kehilangan
dengan sepenuh jiwa
tanpa menyebut satu kata
yang paling sering disalahpahami manusia.