Ada satu pertanyaan yang jarang diajukan dengan sungguh-sungguh di dunia kerja.
Mengapa perusahaan begitu sering menuntut loyalitas, tetapi begitu jarang bertanya apakah mereka sudah cukup layak untuk menerima loyalitas itu?
Barangkali karena sejak lama kita terbiasa membalik urutan sebab dan akibat.
Loyalitas dianggap sebagai kewajiban pekerja. Padahal, dalam kenyataannya, loyalitas adalah buah dari kepercayaan. Ia tidak lahir dari perintah, melainkan dari pengalaman. Ia tumbuh ketika seseorang merasa dihargai, bukan ketika ia diminta untuk menghargai tanpa pernah merasakan penghargaan itu sendiri.
Ironisnya, banyak perusahaan justru membangun budaya yang seolah-olah dapat menggantikan keadilan.
Setiap pagi para pekerja dikumpulkan. Mereka mendengarkan motivasi, menyanyikan yel-yel, mengulang nilai-nilai perusahaan, menghafal visi dan misi, bahkan terkadang diminta meneriakkan komitmen dengan penuh semangat.
Tidak ada yang salah dengan semua itu.
Semangat memang penting.
Budaya kerja juga penting.
Namun ada satu kenyataan yang tidak pernah bisa dikalahkan oleh kata-kata.
Perut manusia tidak mengenal slogan.
Tagihan listrik tidak menerima pembayaran berupa motivasi.
Pemilik rumah kontrakan tidak akan berkata, "Tidak apa-apa, bulan ini Anda boleh membayar dengan loyalitas."
Realitas selalu lebih keras daripada retorika.
Barangkali perusahaan memiliki alasan.
Mungkin kondisi keuangan memang sedang sulit.
Mungkin pasar sedang lesu.
Mungkin keuntungan terus menurun.
Semua kemungkinan itu layak dipahami.
Namun pemahaman hanya mungkin tumbuh jika ada keterbukaan.
Sulit meminta seseorang memahami keadaan yang tidak pernah ia ketahui.
Di banyak organisasi, pekerja hanya mengetahui satu kalimat.
"Perusahaan sedang tidak baik-baik saja."
Kalimat itu diulang berkali-kali.
Namun tidak pernah disertai gambaran yang cukup agar pekerja benar-benar memahami situasinya.
Akibatnya, yang lahir bukan empati, melainkan prasangka.
Karena ruang kosong yang tidak diisi oleh informasi akan selalu diisi oleh dugaan.
Transparansi bukan berarti seluruh laporan keuangan harus dibuka kepada semua orang.
Namun setidaknya, ketika perusahaan meminta pengorbanan, perusahaan juga memberikan alasan yang dapat dipercaya.
Kepercayaan bukan dibangun dari jabatan.
Kepercayaan dibangun dari kejujuran.
Ada ironi lain yang lebih sunyi.
Perusahaan sering berkata,
"Anggaplah perusahaan ini sebagai rumah kedua."
Kalimat itu terdengar hangat.
Namun rumah yang sesungguhnya adalah tempat seseorang diterima tanpa syarat.
Di dunia kerja, rumah kedua itu memiliki syarat yang sangat jelas.
Target harus tercapai.
Produktivitas harus meningkat.
Efisiensi harus dijaga.
Jika semuanya gagal, hubungan yang disebut "keluarga" itu dapat berakhir hanya dalam satu surat keputusan.
Maka pertanyaannya menjadi sederhana.
Apakah perusahaan benar-benar menganggap pekerja sebagai keluarga?
Ataukah kata "keluarga" hanyalah metafora yang digunakan selama masih menguntungkan organisasi?
Sebab keluarga sejati tidak mengukur nilai seseorang hanya dari produktivitasnya.
Lebih jauh lagi, kita perlu bertanya tentang makna bekerja itu sendiri.
Mengapa manusia bekerja?
Sebagian orang akan menjawab, untuk mengembangkan diri.
Sebagian lagi menjawab, untuk berkarya.
Namun bagi jutaan orang lainnya, jawaban itu terlalu mewah.
Mereka bekerja agar dapur tetap mengepul.
Agar anak tetap bersekolah.
Agar orang tua tetap dapat berobat.
Agar besok masih ada makanan di meja.
Bekerja, bagi mereka, bukan jalan menuju impian.
Melainkan cara menunda kehancuran.
Di titik inilah kebebasan mulai kehilangan maknanya.
Secara hukum mereka memang bebas.
Bebas mengundurkan diri.
Bebas mencari pekerjaan lain.
Bebas menolak.
Tetapi apakah seseorang benar-benar bebas ketika semua pilihannya sama-sama menyakitkan?
Filsuf pernah mengatakan bahwa manusia adalah makhluk yang bebas.
Namun kehidupan modern sering memperlihatkan sesuatu yang berbeda.
Manusia memang memiliki pilihan.
Tetapi tidak semua orang memiliki kemungkinan.
Pilihan tanpa kemungkinan sering kali hanyalah ilusi.
Lalu muncullah kalimat yang sangat sering kita dengar.
"Kalau tidak suka, silakan resign."
Kalimat itu terdengar logis.
Namun logika sering kali lupa menghitung kenyataan.
Resign bukan sekadar keluar dari perusahaan.
Resign berarti kehilangan pemasukan.
Kehilangan jaminan hidup.
Mengambil risiko terhadap keluarga.
Menghadapi pasar kerja yang semakin sempit.
Menghadapi ribuan pelamar lain yang sama-sama berharap.
Bagi mereka yang hidup dari gaji bulanan, mengundurkan diri bukan keputusan sederhana.
Itu adalah perjudian.
Dan tidak semua orang mampu berjudi dengan masa depan anak-anaknya.
Karena itulah banyak pekerja tetap bertahan.
Bukan karena mereka mencintai pekerjaannya.
Melainkan karena mereka lebih takut pada ketidakpastian.
Perusahaan yang awalnya hanya menjadi batu loncatan perlahan berubah menjadi batu tumpuan.
Bukan tempat yang mereka impikan.
Melainkan tempat yang tidak berani mereka tinggalkan.
Di sinilah kekuasaan bekerja dalam bentuk yang paling halus.
Tidak ada ancaman.
Tidak ada paksaan.
Tidak ada rantai.
Yang ada hanyalah keadaan.
Keadaanlah yang membuat seseorang tetap diam.
Keadaanlah yang membuat seseorang menerima upah yang sebenarnya tidak cukup.
Keadaanlah yang membuat seseorang tersenyum kepada atasan sambil memikirkan tagihan yang belum terbayar.
Keadaan lebih kuat daripada perintah.
Karena keadaan mampu membuat manusia merasa tidak memiliki pilihan.
Namun kita juga harus jujur melihat sisi lainnya.
Tidak semua perusahaan adalah penindas.
Tidak semua pemilik usaha hidup bergelimang keuntungan.
Ada perusahaan yang benar-benar berjuang agar tetap bertahan.
Ada pemilik usaha yang ikut menanggung kerugian.
Ada organisasi yang ingin menaikkan kesejahteraan pekerja tetapi terhalang kondisi ekonomi.
Karena itu, persoalannya bukan sesederhana "perusahaan jahat dan pekerja baik."
Persoalannya adalah sistem yang sering memaksa kedua belah pihak berada dalam posisi saling membutuhkan sekaligus saling mencurigai.
Perusahaan takut rugi.
Pekerja takut miskin.
Keduanya sama-sama takut.
Hanya saja, ketakutan mereka memiliki bentuk yang berbeda.
Yang paling menyedihkan bukanlah upah yang rendah.
Melainkan ketika manusia perlahan mulai menganggap keadaan itu sebagai sesuatu yang normal.
Ketika bekerja keras tetapi tetap hidup pas-pasan dianggap sebagai kewajaran.
Ketika lembur tanpa penghargaan disebut dedikasi.
Ketika kelelahan dipuji sebagai loyalitas.
Ketika diam dipandang sebagai profesionalisme.
Dan ketika mempertanyakan keadilan dianggap sebagai ancaman.
Di titik itu, bukan hanya ekonomi yang sedang bermasalah.
Cara berpikir kita pun mulai berubah.
Kita tidak lagi bertanya apakah sesuatu itu adil.
Kita hanya bertanya apakah kita masih mampu bertahan.
Pada akhirnya, perusahaan tidak dibangun oleh gedung.
Bukan pula oleh mesin.
Bukan oleh logo.
Bukan oleh slogan.
Perusahaan berdiri karena ada manusia yang setiap pagi datang membawa waktu hidupnya.
Yang mereka jual sesungguhnya bukan tenaga.
Mereka menjual jam-jam kehidupan yang tidak akan pernah kembali.
Delapan jam hari ini tidak akan bisa dibeli kembali oleh siapa pun.
Karena itulah upah sesungguhnya bukan sekadar harga tenaga kerja.
Ia adalah penghargaan atas potongan kehidupan yang telah diberikan seseorang kepada orang lain.
Dan kehidupan selalu lebih mahal daripada angka di dalam slip gaji.
Mungkin suatu hari nanti kita perlu mengubah pertanyaan yang selama ini terus diulang.
Bukan lagi,
"Mengapa pekerja tidak loyal?"
Bukan pula,
"Mengapa perusahaan tidak peduli?"
Tetapi pertanyaan yang lebih mendasar.
Bagaimana mungkin kita berharap lahirnya loyalitas, jika keadilan belum pernah benar-benar menjadi fondasinya?
Sebab loyalitas yang dipaksa hanya melahirkan kepatuhan.
Loyalitas yang dibeli murah hanya melahirkan kepura-puraan.
Tetapi loyalitas yang tumbuh dari keadilan akan melahirkan sesuatu yang jauh lebih kuat.
Kepercayaan.
Dan tanpa kepercayaan, hubungan antara perusahaan dan pekerja hanyalah transaksi yang dipertahankan oleh rasa takut, bukan oleh rasa saling memiliki.