Penelitian modern menunjukkan bahwa putus cinta (patah hati) dapat memicu reaksi psikologis dan fisiologis yang mendalam[1]. Perasaan kehilangan pasangan romantis di otak diproses seperti ancaman nyata, tidak sekadar metafora. Ketika cinta hilang, otak mengaktifkan sirkuit emosional dan stres yang mirip dengan pengalaman duka atas kehilangan orang terkasih. Akibatnya, penderita patah hati sering merasakan gejala fisik—seperti insomnia, nafsu makan turun, atau nyeri dada—serta efek psikologis yang mirip depresi dan kecemasan[1][2].
Tekanan emosional akibat patah hati melibatkan banyak area otak dan sistem neurokimia. Beberapa studi fMRI menemukan bahwa pusat emosi dan pemrosesan hadiah di otak sangat terlibat. Misalnya:
Amigdala (sistem “alarm” emosi): Amigdala terstimulasi hebat saat seseorang dikecewakan oleh pasangan. Ini memicu reaksi perasaan takut, sedih, dan cemas yang kuat sekaligus mengaktifkan sumbu hipotalamus-hipofisis-adrenal (HPA) sehingga hormon stres kortisol meningkat[3]. Peningkatan aktivitas amigdala juga mengganggu kontrol emosional korteks prefrontal, sehingga penderita lebih reaktif secara emosional dan sulit mengatur kesedihan[3].
Sistem Hadiah dan Dopamin: Hubungan romantis memicu sekresi dopamin yang membuat kita bahagia. Ketika hubungan berakhir, ada penurunan tajam dopamin otak[4]. Penurunan dopamin ini membuat penderita merasa kehilangan dan menarik diri secara emosi—mirip gejala kecanduan (yg mengalami penarikan)[4]. Selain itu, hormon pengikat sosial seperti oksitosin dan vasopresin menurun, memperparah perasaan kesepian dan isolasi.
Sistem Nyeri Sosial (ACC): Daerah anterior cingulate cortex (ACC) yang memproses rasa sakit fisik ternyata juga aktif saat hati patah. Pencitraan otak menunjukkan area yang sama aktif ketika seseorang menahan sakit fisik maupun saat merasakan penolakan atau duka sosial[5]. Inilah yang menjelaskan mengapa patah hati sering terasa “sakit secara fisik”.
HPA Axis dan Kortisol: Putus cinta adalah stres berat yang mengaktifkan sumbu HPA. Hipotalamus merespon emosi kehilangan dengan melepas kortisol[6]. Kadar kortisol yang tinggi dalam waktu lama berdampak buruk pada kesehatan—melemahkan sistem imun, meningkatkan peradangan, bahkan berisiko memicu penyakit kardiovaskular[6]. Respon saraf simpatik juga aktif: detak jantung meningkat, keringat dingin, dan gangguan pencernaan sering terjadi sebagai manifestasi stres emosional[7].
Putus cinta tidak hanya menyakitkan secara emosional, tetapi juga memicu respons tubuh layaknya stres akut atau trauma psikologis. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa gejala patah hati banyak menyerupai gangguan stres pasca-trauma (PTSD). Sebuah studi besar di Afrika Selatan menemukan 73% mahasiswa yang mengalami putus cinta melaporkan gejala stres pasca-trauma pada tingkat tinggi, melebihi kelompok yang mengalami peristiwa traumatis umum[2]. Dengan kata lain, kehilangan cinta bisa dianggap sebagai peristiwa traumatis yang serius.
Selain itu, tekanan kronis dari patah hati dapat berdampak fisik nyata. Misalnya, kasus takotsubo cardiomyopathy atau “sindrom jantung patah hati” dikenal dalam kardiologi: stres emosional hebat (seperti duka mendalam) dapat melemahkan otot jantung secara mendadak[8]. Hampir semua kasus sindrom ini dilaporkan pada orang sehat yang mengalami tekanan emosional tiba-tiba[8].
Dampak psikologis putus cinta dapat terlihat dalam berbagai gejala: depresi, kecemasan, obsesi (ruminasi) terhadap mantan, bahkan penyalahgunaan zat sebagai pelarian[1][9]. Banyak orang yang putus sulit tidur, kehilangan gairah hidup, atau merasa identitasnya “hancur” karena kehilangan peran sebagai pasangan. Studi neuropsikologi juga menunjukkan efek kognitif: penderita patah hati bisa mengalami gangguan memori kerja dan kesulitan berkonsentrasi[10]. Temuan fMRI memperlihatkan individu setelah putus memiliki aktivitas otak yang berbeda dalam tugas memori kerja dibanding yang masih berpasangan[10].
Dalam jangka panjang, stres emosi akibat patah hati juga mengganggu kesehatan fisik. Tingginya kadar kortisol kronis berpotensi memperparah peradangan dan melemahkan imunitas, sehingga penderita menjadi lebih rentan sakit[6]. Kombinasi kecemasan, depresi, dan stres fisik dapat meningkatkan risiko gangguan jantung dan gangguan kesehatan lainnya. Dengan kata lain, patah hati sejati bukan hanya masalah hati; ia mempengaruhi seluruh tubuh.
Fenomena patah hati dapat dijelaskan lewat beberapa teori psikologi. Dalam teori keterikatan Bowlby, hubungan romantis mirip hubungan orang tua-anak (attachment), sehingga kehilangan pasangan diproses otak seperti kehilangan pengasuh. Bowlby menguraikan bahwa reaksi kehilangan berkembang dalam tiga tahap: protes (emosi intens, menangis, ingin kembali dengan pasangan), putus asa/sedih, dan akhirnya penyesuaian/reorganisasi ikatan (belajar hidup tanpa orang tersebut)[11]. Orang dengan gaya keterikatan berbeda bereaksi berbeda. Menurut Marshall dkk., individu cemas cenderung mengalami distress emosional dan fisiologis yang sangat intens (misalnya gelisah, terus memikirkan mantan)[9], sedangkan individu menghindar cenderung menekan emosi dan cepat beralih pada tahap pemulihan[12]. Sebaliknya, yang berikatan aman biasanya mampu pulih lebih cepat dengan resilien lebih baik[13].
Selain itu, model dua-proses Stroebe dan Schut menjelaskan mekanisme coping duka. Mereka berpendapat bahwa orang yang berduka secara dinamis bergantian antara menghadapi perasaan kehilangan (memikirkan pasangan dan merasakan sedih) dan mengalihkan diri untuk menjalani hidup normal[14]. Proses konfrontasi dan pengalihan ini memungkinkan seseorang memproses duka sekaligus tetap berfungsi sehari-hari.
Dalam tinjauan neurosains emosi, patah hati juga dapat dikaitkan dengan sistem emosi primitif mamalia. Jaak Panksepp mengemukakan adanya sistem “separation-distress” (panik/sedih) yang diaktifkan ketika individu terpisah dari figur terkasih[15]. Sistem ini mendorong perilaku pencarian kembali figur yang hilang dan menimbulkan rasa sakit emosional yang mendalam. Secara evolusioner, reaksi kesedihan dan kecemasan karena kehilangan berperan adaptif mendorong pemulihan ikatan sosial yang penting bagi kelangsungan hidup.
Patah hati bukan sekedar ungkapan puitis: sains modern telah mengonfirmasi bahwa kehilangan cinta dapat mempengaruhi otak dan tubuh secara nyata. Secara psikologis, hal ini memicu gejala stres berat—bahkan mendekati PTSD pada sebagian orang[2]—yang mencakup depresi, kecemasan, dan gangguan kognitif. Secara biologis, respons amigdala, perubahan neurotransmiter, dan peningkatan hormon stres (kortisol) memanifestasikan perasaan duka sebagai sakit fisik yang riil[3][5]. Teori-teori psikologi seperti keterikatan dan duka membantu menjelaskan mengapa dan bagaimana proses pemulihan dari patah hati terjadi. Dengan pemahaman ini, masyarakat dapat melihat patah hati sebagai pengalaman adaptif yang komplek—bagian dari proses belajar menghadapi kehilangan yang menyakitkan namun esensial bagi kesehatan mental dan sosial jangka panjang.
Referensi: Kajian ilmiah dan sumber akademis terkait telah digunakan untuk menyusun penjelasan ini[1][2][10][11][9][12][14].
[1] [3] [4] [5] [6] [7] The Break-Up Brain: The Neurology of Romantic Separation
https://www.neurohealthalliance.org/post/the-break-up-brain-the-neurology-of-romantic-separation
[2] Romantic relationship dissolutions are significantly associated with posttraumatic stress symptoms as compared to a DSM-5 Criterion A event: a case-case–control comparison - PMC
https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC10395251/
[8] Heart-Brain Health: A Two-Way Street | Harvard Medicine Magazine
https://magazine.hms.harvard.edu/articles/heart-brain-health-two-way-street
[9] [11] [12] [13] [14] Attachment Styles and Personal Growth following Romantic Breakups: The Mediating Roles of Distress, Rumination, and Tendency to Rebound - PMC
https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC3774645/
[10] Working Memory Alterations After a Romantic Relationship Breakup - PMC
https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC8062740/
[15] Frontiers | Selected Principles of Pankseppian Affective Neuroscience
https://www.frontiersin.org/journals/neuroscience/articles/10.3389/fnins.2018.01025/full