Di sekitar kita, ada sebuah fenomena sosial yang cukup menarik. Seorang perempuan yang berpenampilan tomboy sering kali dianggap biasa. Ia memakai pakaian yang cenderung maskulin, rambut pendek, menyukai olahraga, atau memiliki sifat yang tegas. Meski mungkin ada yang berkomentar, pada akhirnya masyarakat cenderung menerima.
Namun, situasinya sering berbeda ketika seorang laki-laki terlihat lebih feminin atau yang dalam percakapan sehari-hari sering disebut "boti". Cara berbicara yang lembut, gerakan tubuh yang halus, atau penampilan yang dianggap tidak sesuai dengan gambaran laki-laki pada umumnya sering kali mengundang ejekan, cibiran, bahkan penolakan.
Mengapa bisa terjadi? Apakah masyarakat sedang bersikap tidak adil?
Jawabannya tidak sesederhana "iya" atau "tidak". Ada beberapa alasan yang saling berkaitan.
Sejak kecil, banyak orang dibesarkan dengan pembagian peran yang cukup tegas. Anak laki-laki diajarkan untuk kuat, berani, dan tidak mudah menangis. Sementara anak perempuan diajarkan untuk lembut, penyayang, dan sopan. Nilai-nilai ini diwariskan dari keluarga, lingkungan, sekolah, bahkan media.
Akibatnya, masyarakat membentuk gambaran tentang seperti apa laki-laki dan perempuan yang dianggap "normal".
Yang menarik, dalam banyak budaya, sifat-sifat yang dianggap maskulin sering dipandang lebih tinggi daripada sifat-sifat feminin. Menjadi kuat dianggap lebih baik daripada menjadi lembut. Menjadi berani dianggap lebih membanggakan daripada menjadi halus.
Karena itulah, ketika seorang perempuan memiliki sifat yang dianggap maskulin, banyak orang melihatnya sebagai sesuatu yang bahkan positif. Ia dianggap mandiri, tangguh, berani, atau tidak manja.
Sebaliknya, ketika seorang laki-laki menunjukkan sisi yang dianggap feminin, sebagian orang menganggapnya sebagai penurunan martabat. Seolah-olah ia meninggalkan sesuatu yang lebih tinggi menuju sesuatu yang lebih rendah. Padahal anggapan seperti itu lahir dari cara pandang budaya, bukan dari kenyataan bahwa sifat feminin memang lebih rendah.
Ada juga alasan lain yang jarang disadari.
Masyarakat sering memberi beban yang lebih berat kepada laki-laki. Laki-laki diharapkan menjadi pelindung, pencari nafkah, pemimpin keluarga, dan mampu menghadapi tekanan hidup. Karena harapan itu begitu besar, setiap perilaku yang dianggap menjauh dari gambaran tersebut sering dipandang sebagai ancaman terhadap peran laki-laki.
Sebaliknya, perempuan dalam banyak situasi diberi ruang yang lebih luas untuk berekspresi. Seorang perempuan bisa memakai celana atau jas tanpa dianggap aneh. Bahkan banyak pakaian yang dahulu hanya dikenakan laki-laki kini menjadi mode perempuan. Namun sebaliknya, laki-laki yang mengenakan sesuatu yang identik dengan perempuan biasanya akan langsung menjadi pusat perhatian.
Ini menunjukkan bahwa perubahan budaya berjalan lebih cepat ke satu arah daripada arah yang lain.
Media juga ikut memengaruhi cara masyarakat berpikir. Tokoh perempuan yang kuat sering digambarkan sebagai sosok yang keren dan menginspirasi. Sementara laki-laki yang lembut lebih sering dijadikan bahan lelucon, karakter lucu, atau sosok yang tidak serius. Gambaran yang terus diulang membuat masyarakat tanpa sadar menganggap itulah kenyataan.
Hal lain yang tidak boleh diabaikan adalah tekanan dari lingkungan.
Banyak laki-laki tumbuh dalam lingkungan yang keras. Mereka diajarkan bahwa menangis adalah tanda kelemahan, menunjukkan perasaan adalah sesuatu yang memalukan, dan harus selalu terlihat kuat. Akibatnya, laki-laki sendiri sering menjadi kelompok yang paling keras menghakimi laki-laki lain yang dianggap tidak sesuai dengan standar maskulinitas.
Ironisnya, tekanan itu sering datang bukan hanya dari orang asing, tetapi juga dari teman, keluarga, bahkan kerabat dekat.
Meski demikian, bukan berarti perempuan tomboy selalu hidup tanpa masalah. Banyak dari mereka juga pernah dianggap terlalu kasar, sulit mendapat pasangan, atau tidak cukup anggun. Hanya saja, tingkat penerimaan masyarakat terhadap perempuan tomboy umumnya memang lebih besar dibandingkan penerimaan terhadap laki-laki yang berperilaku feminin.
Fenomena ini pada akhirnya menunjukkan bahwa masyarakat belum sepenuhnya memandang maskulinitas dan feminitas secara setara. Masih ada anggapan bahwa menjadi maskulin adalah standar yang lebih baik, sehingga perempuan yang bergerak ke arah maskulin lebih mudah diterima daripada laki-laki yang bergerak ke arah feminin.
Apakah keadaan ini akan terus seperti itu?
Belum tentu. Budaya selalu berubah. Apa yang dulu dianggap aneh bisa menjadi hal yang biasa beberapa puluh tahun kemudian. Namun perubahan tidak berarti semua orang harus memiliki pandangan yang sama. Setiap masyarakat memiliki nilai, keyakinan, dan norma yang berbeda-beda. Yang terpenting adalah perbedaan pandangan tidak berubah menjadi penghinaan, perundungan, atau kekerasan terhadap orang lain.
Pada akhirnya, fenomena perempuan tomboy yang lebih mudah diterima dibandingkan laki-laki boti bukan semata-mata karena siapa mereka, melainkan karena sejarah panjang budaya yang membentuk cara masyarakat memandang laki-laki dan perempuan. Memahami latar belakangnya membantu kita melihat persoalan ini dengan lebih jernih. Kita mungkin tetap memiliki nilai dan keyakinan masing-masing, tetapi memahami alasan di balik sebuah fenomena sosial adalah langkah penting agar perbedaan tidak selalu berujung pada saling merendahkan.